Jumat, 20 November 2020

Resensi Buku non fiksi

Nama; Novi 

Kelas ; XII AKUNTANSI


Cewek Smart

Identitas Buku

Judul Buku : Cewek Smart.
Pengarang Buku : Ria Fariana.
Penerbit Buku : Gema Insani.
Kota Terbit : Jakarta.
Tahun Terbit : 2008.
Tebal Buku : 200 halaman.

Sinopsis Cewek Smart

Buku memang dirancang untuk membantu remaja perempuan agar dapat menyikapi permasalahan yang terjadi disekitar kita. Buku ini juga mengupas bagaimana menjadi seorang perempuan yang cerdas dan mempunyai kepribadian yang baik sesuai syariat Agama Islam.

Perempuan yang cerdas sesuai syariat adalah seseorang yang dapat menggunakan kecerdasannya untuk menambah keimanannya. Perempuan cerdas itu tidak diukur dari seberapa tinggi nilai raportnya.

Tetapi bagaimana caranya ia mampu menyelesaikan suatu permasalahan dalam hidupnya dengan tolak ukur tertentu yang penuh tanggungjawab.

Secara umum, buku ini berisi dasar-dasar menjadi seorang perempuan yang sholeha. Bagaimana sih menjadi perempuan yang cerdas sesuai syariat? Apa perlu perempuan itu harus centil?

Kita enggak perlu yang namanya pacaran. Semuanya bermuara pada sejumlah nasehat sederhana dan praktis yang dapat membantu untuk menyikapi suatu permasalahan.

Buku ini mampu memabantu menyadarkan remaja perempuan untuk bersikap sesuai syariat Agama Islam. Dengan membaca buku ini, kamu dapat merenungkan mana yang seharusnya dilakukan dan yang tidak dilakukan.

Di buku ini terdapat banyak kata-kata bijak seperti “Islam mendorong perempuan untuk cerdas agar ia tidak muda di bodohi oleh siapapun”.

Kelebihan Buku

Dapat menuntun remaja perempuan zaman sekarang untuk hijrah ke jalan yang benar sesuai syariat Agama Islam. Bahasa buku ini mudah sekali untuk dipahami, karena bahasanya merupakan bahasa yang populer dan gaul. Cover buku ini juga sangat menarik dengan kartun yang lucu dan penuh warna yang menambah nuansa keistimewaan buku ini.

Kekurangan Buku

Buku ini sangat sedikit penjualannya dan gambar ilustrasi yang terdapat dalam buku ini masih bewarna hitam putih

Jumat, 06 November 2020

Buku Fiksi dan NonFiksi

 Pengertian Buku Fiksi dan NonFiksi

Buku Fiksi 

    Kata fiksi berasal dari bahasa Latin fictum yang artinya diciptakan.Buku Fiksi adalah buku tentang cerita yang tidak terjadi, karangan yang dibuat berdasarkan imajinasi, bukan sejarah atau fakta.Tujuan penciptaan cerita fiksi adalah untuk menghibur.

Contoh buku fiksi adalah novel, novel terjemahan, hikayat, dan lain-lain.

Buku Nonfiksi

    Menurut KBBI, nonfiksi adalah yang tidak bersifat fiksi, tetapi berdasarkan fakta dan kenyataan (tentang karya sastra, karangan, dan sebagainya).Buku Nonfiksi adalah tentang fakta atau hal-hal yang benar-benar terjadi.

Contoh buku nonfiksi adalah kamus, buku masak, buku teks untuk belajar di sekolah,atau biografi 

Resensi adalah sebuah tinjauan ringkasan dari sebuah buku oleh seorang ferensi yang sebelumnya telah membaca karya tersebut dengan saksama

Menyusun Laporan Hasil Membaca Buku

Unsur Intrinsik

    Unsur Intrinsik adalah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur yang luar biasa.Unsur intrinsik di gunakan Unsur-Unsur Intrinsik untuk menganalisis karya sastra.

    Unsur-Unsur Intrinsik

A. Alur (Plot)

    Alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk  oleh hubungan sebab-akibat.Alur terdiri atas:
  1. Saling mengenal
  2. Munculnya Konfli
  3. Konflik meninggi
  4. Klimaks,dan
  5. Menyelesaikan masalah atau konflik
B. Tema

    Tema merupakan inti atau ide pokok dalam cerita.Tema merupakan awal tolak pengarang dalam menyampaikan cerita.

C. Penokohan

    Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.Penjelasan karakter tokoh dapat melalui gambaran fisik dan perilakunya.

D. Sudut Pandang

    Sudut pandang adalah posisi pengarang atau narator dalam membawakan cerita tersebut.

E. Latar

    Latar merupakan tempat,waktu,dan suasana terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh.Contohnya,di tepi hutan,di sebuah desa,pada suatu waktu,pada zaman dahulu,di kala senja.

F. Amanat

    Amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karya yang diciptakan itu.

Unsur Ekstrinsik

    Unsur Ekstrinsik adalah bagian atau komponen yang terdapat dalam sebuah karya sastra (cerpen,novel,puisi,dan lainnya)yang membentuk atau membangun sebuah karya sastra dari luar.Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada di luar karya sastra,namun memiliki pengaruh terhadap karya sastra secara tidak langsung.

    Unsur-unsur Ekstrinsik

1. Latar belakang atau biografi pengarang

    Biografi adalah sebuah kisah yang menceritakan proses kehidupan seseorang (pengarang karya sastra).Untuk mengetahui latar belakang atau biografi sang penulis dapat melalui beberapa faktor,yaitu:
  • Dapat dilakukan dengan meninjau riwayat hidup
  • Kondisi psikologiis sang penulis
  • Aliran sastra penulis.

2. Kondisi masyarakat dan lingkungan penulis

    Unsur ini akan memberikan pembentukan pengaruh terhadap hasil dari sebuah kerya sastra.Pengaruh yang diberikan daoat berbentuk gaya bahasa yang digunakan,model,dan latar.Faktor yang ada didalam unsur kondisi masyarakat dan lingkungan penulis,yaitu:
  • ideologi suatu negara
  • kondisi politik yang diamati oleh penulis
  • kondisi sosial masyarakat tempat penulis tinggal
  • kondisi lingkungan tempat penulis tinggal,
  • kondisi ekonomi yang dialami oleh penulis dan masyarakat lingkungannya

3. Nilai nilai yang tersemat dalam karya sastra

    Nilai-nilai yang ada di dalan unsur ekstrinsik berpengaruh tidak nyata,namun dapat dirasakan ada keberadaannya dengan sebuah pemahaman yang mendalam akan sebuah karya sastra.Nilai-nilai yang dapat memengaruhi sebuah karya sasra:

  • Nilai agama
  • Nilai sosial
  • Nilai moral
  • Nilai budaya

Menilai buku nonfiksi

Menilai isi buku nonfiksi ditinjau dari intisari dan nilai yang terkandung dalam buku nonfiksi.

 RESENSI

Sistematika resensi

  • Judul
  • identitas buku
  • keunggulan buku
  • kelemahan buku ,dan
  • simpulan

Tujuan

  • Membantu pembaca dalam mengetahui Gambaran dan Penilaian secara umum, dari suatu hasil Karya secara ringkas.
  • Membantu untuk mengetahui Kelebihan dan Kelemahan pada Karya.
  • Membantu untuk mengetahui Latar Belakang dan Alasan pada sebuah Karya yang dibuat.

Langkah Menyusun Tanggapan terhadap Buku yang dibaca


1. Jenis Buku


Jenis/bentuk buku itu apakah roman, novel, biografi, atau yang lain. Selain itu seorang resentator menyebutkan juga buku termasuk buku fiksi atau nonfiksi.

2. Keaslian Ide


Buku itu apakah benar-benar merupakan karya asli dari pengarangnya atau merupakan jiplakan dari buku lain yang pernah terbit.

3. Bentuk


Bagaimana mengenai bentuk atau format dari buku itu. Apakah bentuknya, kertas, ilustrasi cover, jenis huruf yang dipakai, dan sebagainya.

4. Isi dan Bahasa


Dilihat dari segi isi, resentator perlu memperhatikan unsur-unsur intrinsiknya, yaitu tentang tema, alur, perwatakan, sudut pandang dan sebagainya.

Bahasa dalam buku itu dapat ditinjau dari segi struktur kalimat, gaya bahasa/style, ungkapan dan lain-lain. Apakah bahasa yang digunakan memakai bahasa sehari-hari yang segar tidak menjemukan, mudah dimengerti oleh pembaca, dan sebagainya. Mudah dipahami atau sukar diterima pembaca. Pengujian materi mendapat perhatian juga dari resentator.

5. Simpulan


Akhirnya seorang penulis resensi harus dapat menyimpulkan, apakah buku itu baik dan perlu dibaca atau tidak.

  • menulis data buku yang dibaca,
  • menulis ikhtisar isi buku,
  • mendaftar butir-butir yang merupakan kelebihan dan kekurangan buku,
  • menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atau isi buku, dan
  • memadukan ikhtisar dan tanggapan pribadi ke dalam tulisan yang utuh.

Sebuah resensi harus memuat hal-hal sebagai berikut :

1. Data buku atau identitas buku

a. Judul buku
Jika buku yang akan kamu resensi adalah buku terjemahan, akan
lebih baik jika kamu menuliskan judul asli buku tersebut.
b. Penulis atau pengarang
Jika buku yang diresensi adalah buku terjemahan, kamu harus
menyebutkan penulis buku asli dan penerjemah.
c. Nama penerbit
d. Cetakan dan tahun terbit
e. Tebal buku dan jumlah halaman

2. Judul Resensi

Judul resensi boleh sama dengan judul buku, tetapi tetap dalam konteks buku itu.

3. Ikhtisar Isi Buku

Dalam meresensi buku, seorang peresensi harus menulis buku yang hendak diresensi. Ikhtisar adalah bentuk singkat dari suatu karangan atau rangkuman. Ikhtisar merupakan bentuk singkat karangan yang tidak mempertahankan urutan karangan atau buku asli, sedangkan ringkasan harus sesuai dengan urutan karangan atau buku aslinya. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat ikhtisar isi buku adalah sebagai berikut.
a. Membaca naskah/buku asli
Penulis ikhtisar harus membaca buku asli secara keseluruhan untuk
mengetahui gambaran umum, maksud, dan sudut pandang pengarang.
b. Mencatat gagasan pokok dan isi pokok setiap bab
c. Membuat reproduksi atau menulis kembali gagasan yang dianggap
penting ke dalam karangan singkat yang mempunyai satu kesatuan yang padu.

4. Kelebihan dan Kekurangan Buku

Penulis resensi harus memberikan penilaian mengenai kelebihan dan kelemahan buku yang disertai dengan ulasan secara objektif.

5. Kesimpulan

Penulis resensi harus mengemukakan apa yang diperolehnya dari buku yang diresensi dan imbauan kepada pembaca. Jangan lupa cantumkan nama kamu selaku peresensi.

Hubungan Antar Unsur Buku Fiksi / Non Fiksi

Dengan mengamati setiap unsur yang yang terkandung di dalam buku fiksi dan nonfiksi, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian unsur memiliki kesamaan dan sebagian yang lain berbeda. Unsur yang sama-sama dimiliki baik buku fiksi maupun buku nonfiksi yaitu:

  • Sampul / Cover
  • Sub Bab
  • Judul Sub Bab

Dalam hal perbedaan, buku nonfiksi memiliki isi yang ilmiah/aktual/faktual, disajikan dengan bahasa baku, dan memiliki sistematika penulisan standar. Sedangkan buku fiksi memiliki tokoh dan penokohan sebagai pelaku cerita, didukung dengan tema, disajikan dengan bahasa variatif (biasanya tidak baku), dan dilengkapi dengan alur cerita yang beraneka ragam.


Sabtu, 03 Oktober 2020

Teks Editorial

 Bahaya Pembukaan Bioskop

Pengenalan Isu (Tesis)

PEMBERIAN izin pembukaan bioskop oleh pemerintah DKI Jakarta sungguh di luar nalar. Tidak ada urgensi memberikan kelonggaran semacam itu saat wabah Covid-19 belum terkendali.

Penyampaian Pendapat (Argumen)

Dalam dua pekan terakhir, jumlah rata-rata pasien baru Covid-19 di Ibu Kota hampir 600-an orang setiap hari. Angka itu naik drastis dibanding data pada akhir Juli lalu ketika penambahan jumlah pasien baru masih di kisaran 400-an. Rasio positif di Jakarta dalam dua pekan terakhir juga lebih dari 10 persen. Artinya, terdapat sepuluh orang positif dari setiap seratus orang yang diuji usap. Situasi ini lebih buruk ketimbang bulan lalu, ketika rasio positif di Jakarta sempat berada di ambang batas aman versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 5 persen.

Karena itu, sulit memahami alasan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengizinkan bioskop segera dibuka lagi. Memang, sejak ditutup pada Maret lalu, ribuan karyawan sinema sudah dirumahkan. Terdapat 343 teater dengan 1.756 layar di Indonesia—lebih dari 50 persennya berada di Jakarta dan sekitarnya. Tutupnya bioskop-bioskop itu menyebabkan industri perfilman ikut mati suri. Pusat belanja juga sepi pengunjung. Tapi, seyogianya, alasan ekonomi tak dijadikan pembenar untuk mengabaikan pertimbangan kesehatan dan keselamatan publik.

Gubernur Anies beralasan pembukaan bioskop dimungkinkan selama protokol kesehatan dipatuhi. Selain jumlah penonton yang masuk ke sinema dibatasi, posisi duduk para penikmat film bisa diatur, seperti layaknya penumpang pesawat terbang. Hal itu merupakan alasan yang mudah dipatahkan karena membuka bioskop sama saja dengan mengundang pusat keramaian baru. Risiko penularan virus corona bisa melonjak ketika titik-titik berkumpulnya warga kembali dibuka.

Pernyataan Ketua Tim Pakar Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito untuk mendukung pembukaan bioskop bahkan lebih absurd. Menurut dia, membiarkan warga beramai-ramai menonton sinema bisa meningkatkan imunitas. Penjelasan semacam ini lebih terdengar seperti keputusasaan pemerintah dalam mengendalikan penularan Covid-19. Seolah-olah Satgas sudah kehabisan akal untuk menekan laju pandemi ini di Indonesia.

Penegasan Ulang

Gubernur Anies dan jajarannya tidak boleh menyerah di hadapan serangan virus corona. Salah satu kelemahan utama dalam program pengendalian penularan Covid-19 di Indonesia adalah pelacakan kontak pasien positif. Saat ini kapasitas pemerintah dalam pelacakan jejaring kontak pasien masih di bawah standar WHO. Protokol Kementerian Kesehatan mensyaratkan 80 persen dari semua kontak pasien harus sudah terlacak dan diisolasi dalam tiga hari selepas konfirmasi status pasien. Jika hal itu tidak dilakukan, mustahil penyebaran virus ini bisa ditekan sampai minimal.

Ketimbang sibuk membuka bioskop, pemerintah DKI Jakarta seharusnya menggelontorkan anggaran untuk membantu Dinas Kesehatan dan Satgas guna meningkatkan kapasitas pelacakan. Tanpa itu, pembatasan sosial seketat apa pun bakal percuma. Jika wabah sudah terkendali, ekonomi pasti akan pulih kembali.

Sabtu, 15 Agustus 2020

Teks Sejarah

Tantangan Menggelar Operasi Tempur Terbuka

Presiden Sukarno usai memberikan pidato tentang pembebasan Irian Barat di Yogyakarta bulan Desember 1961 langsung menandatangani Naskah Kumando Rakyat. Naskah yang kemudian menelurkan Trikora itu diserahkan langsung oleh Sekretaris Depertan, Achmadi.

Operasi untuk mambebaskan Irian Barat yang digelurakan oleh Presiden RI Sukarno kendati dilaksanakan salam keterbatasan alutista yang dimiliki militer RI telah berhasil menunjukkan betapa bangsa ini bisa menunjukkan kamampuannyaa ketika harus berperang malawan bangsa lain (Belanda).

Saya tidak mengucapkan kehendak saya saja, tetapi tiap-tiap perkataan yang saya ucapkan ini didukung sepenuhnya oleh segenap rakyat Indonesia. Dan jikalau saya memberikan komando, sebenarnya bukan komando dari Soekarno kepada Rakyat Indonesia sebenarnya bukan komando dari Presiden Republik Indonesia kepada rakyat Indonesia, sebenarnya bukannya komando dari Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, bukan komando dari pada Panglima Besar Pembebasan Irian Barat kepada rakyat Indonesia. Tidak! Tapi sebenarnya adalah komando dari rakyat Indonesia kepada rakyat Indonesia sendiri. Tidaklah benar jika saya katakanabahwa inilah kehendakmu sendiri. Saudara-saudara rakyat Indonesia?”

“Maka oleh karena itu, hei segenap rakyat Indonesia, mari sebagai tadi saya katakana gagalkan ini usaha fihak Belanda untuk mendirikan “negara Papua”, kibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat! Siap sedia di dalam waktu yang singkat pada komando untuk mengadakan rnobilisasi umum daripada rakyat Indonesia untuk membebaskan sama sekali Irian Barat itu daripada cengkeraman imperialism Belanda!” Itulah salah satu kutipan dari buku “25 Tahun Trikora” yang digelorakan oleh Presiden Sukarno sewaktu mengumandangkan Trikora di lapangan Alun-alun Utara, Yogyakarta, 19 Desember 1961 yang dihadiri lebih dari satu juta orang. Sejumiah di antaranya adalah perwira muda yang baru luIus dari Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang dan dilantik oleh Presiden. Perintah itu kendati bermakna komando dari rakyat untuk rakyat, jelas merupakan perintah langsung bagi Angkatan Bersenjataa RI untuk mengambil tindakan secepatnya guna menyiapkan kekuatan tempur untuk membebaskan Irian Barat.

Dengan melihat fakta dilapangan bahwa untuk memasuki daratan Irian Barat hanya bias ditempuh lewat laut dan udara, kekuatan Angkatan Udara RI serta Angkatan Laut RI (TNI AL) harus bekerja keras. Apalagi pada saat itu, khusus kekuatan tempur ALRI yang tersedia hanya bias memenuhi 30% dari kebutuhan, meskipun unsur angkutan lautnya mencapai sekitar 60%. Sedangkan kekuatan udara hanya terdiri dari empat buah pembom jenis TU-16, 6 IL-28, 6 B-25/B-26. 12 MIG -17, 6 P-51 Mustang, 5 C-130 Hercules, dan 20 C-47 Dakota.

Penggalangan Kekuatan

Untukniemenuhi kebutuhan persenjataan“ karena pemerintah sudah mefnililci perhitungan bahwa pada suatu saat Irian Barat harus dibebaskan secara fisik (militer), sebelum Trikora dikumandangkan langkah untuk menyediakan senjata dan pasukan tempur sudah dilaksanakan.

Persiapan itu adalah sistem pertahanan keamanan nasional berupa Perlawanan Rakyat Semesta dengan Angkatan Bersenjata sebagai intinya dan telah dilengkapi alutsista yang dapat mengimbangi militer Belanda. Suatu penandatangan pembeli- an senjata atas dasar kredit jangka panjang dengan Uni Soviet (Rusia) telah dilaksanakan pada akhir tahun 1960. Pemerintah Indonesia dalam hal ini diwakili oleh Menteri Keamanan Nasional Ienderal Abdul Haris Nasution. Pembelian senjata tersebut bahkan merupakan pembelian terbesar yang dapat dipergunakan untuk penambahan kebutuhan kekuatan untuk laut, darat, dan udara.

Dalam kondisi kepepet karenayharus memenuhi persenjataan yang nilainya sangat besar, konon ketika Presiden Sukarno ditanya bagaimana cara mernbayarnya nanti , hanya dijawab enteng, “Kemplang saja!” Sambil mengusahakan persenjataan yang kemudian dibeli dari Soviet dan Inggris, struktur komaiido tempur Trikora pun dibentuk ke dalam Komandoa‘ Mandala. Mayor Ienderal Suharto yang keinudian menjabat sebagai Panglima Komando Mandala pun memiliki pendapat sendiri ketika hanya diberi waktu selama enam bulan untuk mempersiapkan sebuah rencana operasi militer.

“Markas Komando didirikan di Makassar (Ujung Pandang). Saya tahu, ini ujian yang paling besar. Ditentukan, paling lambat tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih sudah harus berkibar di Irian Barat. Ini berarti, saya cuma diberi waktu tujuh bulan. Tetapi saya taat saja, saya tunduk kepada perintah”. Alasan Mayjen Suharto sangat masuk akal karena Komando Mandala yang dipimpinnya merupakan komando gabungan yang mempunyai tugas pokok mempersiapkan serta melaksanakan operasi-operasi militer untuk mengembalikan Irian Barat kedalam kekuasaan Republik Indonesia.

Wilayah opersai Komando Mandala mencakup kawasan yang terbentang luas dari Bujur 115 derajat sampai Bujur 141 derajat Timur dan Lintang 5 derajat Utara hingga 10 derajat Selatan. Luas kawasan Mandala tersebut mencakup areal 2.400 km kali 1.900 km atau sekitar 5.510.000 km persegi. Kawasan seluas itu, yang harus direbut melalui operasi militer, yang mau tak mau secara besar-besaran, ternyata lebih dari (9.975.000 km’) setengah luas Wilayah Indonesia. Wilayah yang dikuasai Komando Mandala selama ini biasa disebut denganistilah wilayah Indonesia bagian Timur. Mencakup kawasan laut, darat, dan udara dari empat Komando Daerah Militer (Kodam), dua Komando Daerah Maritim (Kodamar) serta dua Komando Regional Udara (Korud).

Dengan mempelajari luasnya wilayah yang harus dikusasi oleh militer Indonesia, maka bias disimpulkan bahwa tuj uh puluh persen dari kekuatan Nasional akan dikerahkan untuk Operasi dan usaha perang Pembebasan Irian Barat. Upaya untuk menggalang kekuatan dari segala bidang memang harus segera dilakukan.

Apalagi perjuangan Pembebasan Irian Barat adalah konfrontasi di semua bidang terhadap Belanda dkk. Konfrontasi di bidang militer dilakukan sesuai dengan perkembangan diplomasi sekaligus memperhitungkan dinamikan politik, ekonomi, dan sosio psikologis masyarakat RI.

Sambil terus menggalang kekuatan dari berbagai sumber, baik militer dan maupun sipil, kapal perang ALRI dan sipil, APRI telah melancarkan operasi infiltrasi lewat udara dan laut. Infiltrasi lewat laut bahkan berlangsung penuh semangat dan melibatkan kapal-kapal kecil seperti MTB dan kapal selam. Infiltrasi dengan kapal kecil tidak selaluberjalan mulus, dalam sejumlah misi penyusupan kapal-kapal perang ALRI bahkan diserang oleh pesawat tempur dankapal perang Belanda.

Salah satu penyergapan oleh kapal-kapal perang dan pesawat tempur Belanda bahkan mengaki batkan tenggelamnya RI Macan Tutul serta gugurnya perwira senior, Komodor Yos Sudarso. Namun gugurnya Komodor Yos Sudarso dan puluhan pelaut lainnyé tidak membuat seman gat tempur pasnkan Komando Mandala surut justru makin berlitobar-kobar. Kapal-kapal pefang ALRI pun melanjutkan lagi penyusupan dan pengintaian Kegiatan untuk menyusupkan ke wilayah Irian Barat meningkat seiring dengan Operasi ]ayawi yang akan digelar pada bulan 1962.

Meskipun kemudian Operasi Jayawijaya dibatalkan karena Belanda memilih menyeselesaikan masalah Irian Barat secara damai. Beberapa hari menjelang Operasi Iayawijaya digelar, pada 14 Agustus 1942, seluruh 10 kompi telah berhasil cliinfiltrasikan ke daratan Irian Barat, baik lewat udara maupun laut. Dengan demikian, daerah defacto RI telah tercipta di tempat dan unsur-unsur kekuasaan Pemerintah RI juga telah diletakkan sesuai rencana operasi Komando Mandala. Dalam peran ini Komando ALLA telah aktif sekali melakukan pengintaian pengintaian dan menemukan kelemahan-kelemahan system pertahanan laut Belanda. (win)


Pantun Sejarah

https://brainly.co.id/tugas/1101562

Marilah bersama bersatu dihati,

Bersama membina bangsa Indonesia,

Impian merdeka belum dikecapi,

Bangun rakyat Indonesia, bangun bersama

Masih banyak perjuangan kita,

Ingatlah semangat ketika merdeka,

Satukan hati dan kerahkan usaha,

Agar tercapai jua impian merdeka

Terkenang kembali saat gemilang,

Sahutan ‘Merdeka !!’ berulang kali,

Impian seluruh rakyat terjulang,

Senyum di muka, Gembira di hati

Berkobar kobar semangat membara,

Membela rakyat, membina negara,

Menjulang impian rakyat jelata,

Membina martabat sebuah bangsa

Kini hampir separuh abad berlalu,

Semarak lagikah semangat merdeka,

Ingatkah kamu hari itu,

Sewaktu negaraku lahir merdeka

Putar-putar tiang menara

Dilihat dari Prabumulih

Kibar-kibarlah ini bendera

Bendera Sang saka merah putih

Bunga kenanga kuncup terbuka

Tumbuh merekah dihisap kumbang

Indonesia sudah merdeka

Seluruh rakyat pastilah senang

Ampas padi tanggung dibuang

Bunga kembang hanya rekaan

Bakti kami pada pejuang

Sudilah lanjutkan kemerdekaan

Ingatkah kamu hari itu,

Sewaktu negaraku lahir merdeka,

Ingatkah kamu hari itu,

Titik permulaan negara kita

Senin, 15 Juni 2020

Puisi COVID-19

Corona

Waktu tahun 2019, kita nyaman.
Dan 2018, kita nyaman.
Tapi sekarang susah.
Semua dewasa tidak bisa kerja.

Dan semua anak tidak boleh sekolah.
Sekarang tidak boleh jalan-jalan,
tidak boleh bersentuh.
Dan kalau salam tidak boleh dekat.

TAPI kita tidak boleh menyerah.
Kita tidak boleh putus asa.
Untuk negara kita Indonesia.
Kita harus bergabung,
untuk berlindung dari virus corona 




(corona virus).“


Senin, 27 April 2020

MENILAI KARYA MELALUI RESENSI
      Pernahkah kamu membuat resensi? Apakah resensi itu? Resensi merupakan pertimbangan baik-buruknya suatu karya. Orang yang menyusun resensi disebut peresensi. Dalam meresensi sebuah buku, haruslah objektif, sesuai dengan kualitas isi buku. Sebelum melakukan resensi, kalian harus mengetahui dahulu unsur-unsur dalam resensi.
Untuk membekali kemampuanmu, pada bab ini kamu akan belajar:
1. membandingkan isi berbagai resensi untuk menemukan sistematika sebuah resensi;
2. menyusun sebuah resensi dengan memperhatikan hasil perbandingan beberapa teks resensi;
3. menganalisis kebahasaan resensi dalam dua karya yang berbeda; dan
4. mengonstruksi sebuah resensi dari buku kumpulan cerita pendek atau  novel yang dibaca.



     Untuk membantu kamu dalam mempelajari dan mengembangkan kompetensi dalam berbahasa, pelajari peta konsep di bawah ini dengan saksama!







A.  Membandingkan Isi Berbagai Resensi untuk Menemukan Sistematika Sebuah Resensi

            Pada pembahasan pertama ini, kita akan membandingkan isi teks resensi. Resensi adalah ulasan atau penilaian atau pembicaraan mengenaisuatu karya baik itu buku, film, atau karya lain. Tugas penulis resensi adalah memberikan gambaran kepada pembaca mengenai suatu karya apakah layak dibaca atau tidak.Hal-hal yang dapat ditanggapi dalam resensi ialah kualitas isi, penampilan, unsur-unsur, bahasa, dan manfaat bagi pembaca. Unsur- unsur atau sistematika yang terdapat dalam resensi di antaranya sebagai berikut.
1. Judul resensi
2. Identitas buku yang diresensi
3. Pendahuluan (memperkenalkan pengarang, tujuan pengarang buku, dan lain-lain)
4. Inti/isi resensi
5. Keunggulan buku
6. Kekurangan buku
7. Penutup

B.  Menyusun Sebuah Resensi dengan Memperhatikan Hasil Perbandingan Beberapa Teks Resensi
         Berdasarkan objek karyanya, resensi terdiri atas bermacam-macam jenis. Seperti yang terdapat di dalam contoh di atas, ada resensi untuk novel; ada pula yang berupa kumpulan cerpen. Berdasarkan objek tanggapannya, ada pula yang berupa film, drama, lagu, buku ilmu pengetahuan, lukisan, dan karya-karya lainnya. Dengan perbedaan-perbedaan objek karya itu, informasi yang kita dapat pun akan bermacam-macam pula. Misalnya, dari resensi novel atau kumpulan cerpen, informasi yang kita dapatkan adalah tentang alur, penokohan, latar, dan hal-hal lainnya yang terdapat di dalam buku-buku cerita itu. Berbeda halnya apabila resensi itu tentang buku populer, informasi yang kita dapatkan berupa sejumlah ilmu pengetahuan yang dapat memperluas wawasan kita tentang topik yang dibahas oleh buku itu.

C.   Menganalisis Kebahasaan Resensi dalam Dua Karya yang Berbeda
         Tentang kaidah kebahasaan teks resensi, telah kamu pelajari pula dikelas VIII. Namun, untuk lebih jelasnya, amatilah kembali contoh-contoh teks resensi di atas. Berdasarkan contoh-contoh tersebut tampak bahwa teks resensi memiliki kaidah-kaidah kebahasaan seperti berikut.

1. Banyak  menggunakan konjungsi penerang, seperti bahwa, yakni, yaitu.
2. Banyak menggunakan konjungsi temporal: sejak, semenjak, kemudian, akhirnya.
3. Banyak menggunakan konjungsi penyebababan: karena, sebab.
4. Menggunakan pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau
     rekomendasi pada bagian akhir teks. Hal ini ditandai oleh kata jangan, harus,hendaknya,


      Kata-kata tersebut merupakan contoh kata serapan. Kata-kata itu berasal dari bahasa Inggris. Memang dalam perkembangannya, memang Bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun asing. Salah satu masalah yang dihadapi dalam penulisan unsur serapan tersebut adalah penyesuaian ejaan dari bahasa lain itu ke dalam bahasa Indonesia. Khususnya dengan bahasa asing, ejaan-ejaannya itu memiliki banyak perbedaan dengan yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Pemerintah telah menetapkan beberapa peraturan berkaitan dengan penulisan unsur serapan itu. Secara umum peraturan-peraturan itu adalah sebagai berikut.

1. Satu bunyi dilambangkan dengan satu huruf, terkecuali untuk bunyi ng, ny, sy, kh yang diwakili oleh dua   huruf. Contoh: kromosom bukan khromosom, foto bukan photo, retorika bukan rhetorika, dan tema bukan thema.         
2. Penulisan kata serapan harus sesuai dengan cara pengucapan yang  berlaku dalam bahasa Indonesia. Misalnya: cek bukan check, tim bukan team, taksi bukan taxi, dan aki bukan accu.3. Penulisan kata serapan diusahakan untuk tidak jauh berbeda dengan kata aslinya. Contoh: aerob (Inggris: aerobe) bukan erob, hidraulik (Inggris: hydraulic) bukan hidrolik, sistem (Inggris: system) bukan 
sistim, frekuensi (Inggris: frequency) bukan frekwensi.

Tahukah kamu bahwa tujuan utama resensi buku ialah memberikan tanggapan atas isi buku sebagai informasi kepada calon pembaca buku itu. Tanggapan itu dapat memotivasi pembaca resensi atau menjadi tidak berminat membaca buku yang diresensi itu. Di samping itu, resensi buku merupakan umpan balik bagi penulis buku untuk menyempurnakan isi buku tersebut pada edisi terbitan berikutnya. Tujuan meresensi buku hendaknya menjadi acuan bagi penulis resensi dalam mengembangkan resensi yang disusunnya dan juga sebagai salah satu kriteria bagi media yang akan memublikasikannya. Dalam menyimpulkan sebuah resensi perlu penguasaan atau teknik tertentu, misalnya menguasai isi buku, memiliki daya analisis, dan menguasai teori tentang buku yang diresensi. Pada pembahasan ini, kamu harus menyimpulkan teks resensi berdasarkan unsur kebahasaannya, misalnya dari penggunaan kalimat dan penggunaan jenis kata.

D.  Mengonstruksi Sebuah Resensi dari Buku Kumpulan Cerita atau Novel yang Dibaca

      Evaluasi terhadap karya sastra semacam novel lazim disebut dengan resensi, yakni ulasan terhadap kualitas suatu novel. Resensi ditulis untuk menarik minat baca khalayak untuk membaca novel yang diulas. Unsur persuasif sering ditonjolkan dalam resensi. Dengan adanya resensi, pada khalayak timbul keinginan untuk membaca novel itu dan turut mengapresiasinya. Dengan demikian, resensi juga berfungsi sebagai pengantar dan pemandu bagi pembaca dalam menikmati novel tersebut.

      Menulis resensi tidaklah mudah. Untuk melakukan kegiatan ini diperlukan beberapa persyaratan. Berikut persyaratan tersebut.
1. Penulis harus memiliki pengetahuan di bidangnya. Artinya, jika seorang penulis akan meresensi sebuah novel, maka ia harus memiliki pengetahuan tentang teori novel dan perkembangannya.
2. Penulis harus memiliki kemampuan menganalisis. Sebuah buku novel terdiri atas unsur internal dan eksternal atau yang lebih dikenal dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Seorang penulis harus mampu menggali unsur-unsur tersebut.
3. Seorang penulis juga dituntut memiliki pengetahuan dalam acuan yang sebanding. Artinya, penulis akan membandingkan sebuah karya lain yang sejenis. Dengan demikian, ia akan mampu menemukan kelemahan dan keunggulan sebuah karya.

Sumber : https://drive.google.com/file/d/13AIpIOUMI62K4GC7wf8MUq6xuvwQFtq6/view